Tampilkan postingan dengan label Syair Original. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syair Original. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Januari 2018

'Kampungku, Di Reruntuhan Dinding'

Lembah sunyi, reruntuhan puing dibawah daging
Kampung di tonggak pondasi bekas dinding
Yang diatap tenda.. dialas terpal
Merambat dingin, ditembus panas..
Ditenteng airnya.. ditenggak keluarga
Disana ada kepala, yang harapkan langkah dari perihnya telapak berlumur nanah..
Jerit si kecil, di bekas sarangnya..
Yang sebelumnya dicekok cinta.. janji.. didustakan sesama..
Kini tinggal puing-puing bekas runtuhnya dalih penguasa..
Sementara mulut si pengumbar asa kian lantang sambut bursa kuasa
Fahri kecil merengek diayun-ayun Ibunda..
Supaya lelap tidurnya..
Supaya lapar tak terasa nyerinya..
Memang nyeri adanya, nyeri balita lemah di tanah bekas rahim peristiwa

Muslihat disusun rapi saat itu..
Rata sudah tanah tanpa nama, katanya..
Kata mereka yang hingga kini tutup mata..
Memang, kata-kata penguasa harus ditaati bersama..
Sebab yang berkuasa..
Kini duduk di atas sofa..
Namun yang kini tanggung porak-poranda
Bidaknya.. Kacungnya.. Seribu mimpi dilindas siksa

Kampungku, menjelma pucuk ranting
Tak lagi bermukim damai, mimpi penghuninya perlahan kering
Kampungku, di runtuhan dinding
Bekas dusta para maling
Diikat dalam pelik, ratusan sengsara ditunjuk nyata
Tanahku tiada..
Tanahku kini rata..

AL, 11/1/2018

'Pantun Satu Kepala'

Jelaga tirta luapkan bencana
Tanah kering jadi samudera
Manusia hilang nalarnya
Berjuta wicara perang saudara

Ilalang kemuning tunggu mati
Mega menguning tanda senja
Siapa raga ujarkan dengki
Ia setan berwujud manusia

Dedahan ranting ujungnya kering
Lembayung langit jangan dipandang
Saling memaki teramat sering
Mudharat bejat ramai rindang

Kucing hitam di pinggir selokan
Tikus selokan lari terbirit
Ramai gontok sebab junjungan
Setan-setan tertawa menjerit

Mahkota jatuh diambil siapa?
Mahkota jatuh diambil penemu
Bursa kuasa dibagi kolega
Rakyat sekedar benalu

Orang mati lantas dikubur
Jadi kerangka tak ada guna
Jikalau penguasa mulai takabur
Mulutnya busuk tak pantas dicerna

Beras pulen, nasinya sedap
Tak sedap jikalau basi
Sudah tahu periuk tak berasap
Tetap saja dikibuli janji

Benih-benih ditanam petani
Runduk menguning dimakan tikus
Calon wakil dijunjung tinggi
Sudah jadi, rakyat tak diurus

Kecebong bercecer di lubang comberan
Comberan kering kecebong kelojotan
Mulut manis bicara bak kesetanan
Mulut ditagih cari-cari alasan

Buah kedondong dimakan sedap
Hati-hati sebab bijinya berduri
Periuk rakyat tak lagi berasap
Tikus kantor tak henti mencuri

Deru kereta terdengar telinga
Di stasiun berdesak penumpang
Sadarlah sadar wahai manusia
Dosa kuasa nyata terpampang.

AL, 14/1/2018

'Bahadur'

Mimbar mendabik dada
Sontak bendera digenggam
Dikibarkan menyalami jelata
Urusan calon menyalon, panggungnya dagelan
Dari tempo hari, bercampur tradisi
Bukan lagi tabu, bukan lagi keanehan
Sekedar budaya, ini soal kantong Tuan

Disini yang menanam janji
Disana cipta yang anarki
Anomali musim ini..
Musim animo menjadi-jadi
Padmasana..
Mendayu, merayu..
Sesumbar, asal pintar berkelakar
Jabatan dipajang..
Di depan liur serigala, melolong tak ada hentinya..
Serigala pajuh..
Taringnya setajam tanduk lembu..
Namun rapuh..
Mudah luluh..
Di hadapan kotak makan
Saling terjang tak kenal kasihan

Yang sesumbar, yang terbakar
Orang lapar, yang dihajar..
Saling sogok asal tak nampak
Kalaulah nampak, jadi raja elak

Mimpi pengantar kini didusta kasar
Dihasut orang pintar, atau orang paling benar
Kini mahsyur...
Tukang gali kubur hidupnya makmur..
Layani yang bertempur
Tipuan hasutan..
Yang termakan bujukan setan..
Dijanjikan tanah mujur..
Dikira nasi ternyata lumpur

Sebab musabab apa gerangan?
Sebab sedang ramai main tipuan
Sebab bermuka dua jadi andalan..
Kuasa hura-hura cari omplengan
Sudah jadi, bergiliran bayar setoran..
Rakyatnya polos tak bergeming
Rakyat jadi korban..

Sebab jatah kini diatur
Disebar rata selang air mancur
Ada rakyat mati junjung bahadur
Bela jagoannya sampai gugur.

AL, 14/1/2018

'Asmara Satu Rupa'

Semayamnya surya, bukan pertanda
Redupnya, perlahan pelik dirasa
Terkadang menyadur makna, dari dua bola mata
Entah, lidah mulai kelu ujar wicara..

Dari alirnya semburat purnama
Basahi insan, derma harapan
Hati berlumut, berpagut semu
Dirintihan suara, soprano..
Menawar Ia, laksana taruhkan wibawa..
Kisah insan, tanpa nama..
Cinta..
Terbisik dari gempita sasana asmara
Ya.. mungkin pula dari decit kayu bingkai foto
Ini cinta dari remah lamunan lama
Bukan balada John dan Yoko
Bukan Habibie dan Ainun..
Ya.. Tetapi daku majenun!
Akalku.. berhenti menenun
Ahhh!! Segelintir warasku berpaling muka
Kerana Ia, gulitaku sengsara..
Ahhh!! Kenapa?
Dari mata itu, aku dilempar angin
Mengayuh dalam dingin
Sementara, asap hitam beranjak memilin

Hendaknya rasa ini kadung dalam..
Beranjangsana, sanubari ikuti mata.. dan rasa
Bida-bida tercecer, dari warna yang ragam adanya
Namun aku bukan cendala..
Bukan menitih palsu saja..
Aku cinta..
Termakan candunya..
Candu dari engkau, yang entah kini semakin semu: dan bayangannya pula..
Adakalanya menari-nari dalam pikirku..
Kuadukan pada waktu..
Pada belantara..
Pada candra, yang perlahan butakan netra
Ya sudahlah, ini juga tak apa..
Tak apa buta..
Biar sesalku tak jadi selamanya..
Biar rupamu tak lagi tengok raga..
Entah, aku hanya cinta

Lagipula semua hanya cerita
Tak lagi sama..
Ya sudahlah!!
Tuntaskan saja!
Kerana mungkin takkan ada yang sebenarnya!
Aku cinta..
Aku pula yang dihina
Yang terpasung satu rupa!
Aku cinta..
Aku cinta..
Mungkin satu rupa, di jiwa..
Mungkin raga; mata, lidah, dan suaranya
Yang seonggok dagingpun sesalkan datangnya..
Kini aku tunduk habis jumawa
Hilang digdaya..
Dalam cerita..
Berangsur ikuti temaram senja.

AL, 7/1/2018

'Kala Cakrawala Gaungkan Asa'

Selamat pagi, siang, malam
Yang menari, mabuk.. yang tenggelam dalam pandang buram
Yang menanam, yang kelam, yang hidup di pinggiran malam
Ini kisah, kisah hasil jamah..
dijamah kecamuk pikir manusia-manusia resah

Ini tentang penyakit yang mewabah
Beranak pinak diantara orang lemah
Ideologi..
Niscaya percaya sekedar caci maki
Makan pagi hari ini
Dikenyangkan onani..

Aku banyak melihat di layar kaca
Yang hasil kredit..
Sakit teramat sakit, orang sakit ramai menjerit
"Nyawa ditodong harga" bait-bait para bandit
Meski derita tampak mata, tunggu mati sebab berbelit
Bangsal mahal kosong adanya, ditunggu orang-orang berduit
Juga dipesan untuk pendusta..
Yang kemarin saya lihat bersandiwara..
Kacung rakyat yang mengaku elit

Aku bosan melihatnya, merasuk jiwa hingga tak mampu bicara
Sore itu.. dimana-mana seribu problema..
Lansia kehilangan atapnya.. di siang bolong disita grandong
Banyak pengerat di comberan, siul berdecit cari makanan
Papan tulis kosong di bawah kolong, papan tulis mahal milik juragan
Saling sogok adu taruhan, yang lahir calon bajingan
Nampak pula yang mencoba berdiri, diatas semak belukar
Sementara pengkhianat perlahan datang, semak dibakar..

Seribu tanya menghardik logika
Kita adalah sang tuan berwujud budak..
Disana mahkota gila kuasa.. asal nominal tajam menggoda
Yang memilih sekedar kunyah ampas, genting bocor, tembok retak
Sang pemberi takhta kini dihina, dilempar dedak
Lalu yang sudah bernama, disuguh candu, ditenggak sampai tersedak

Dengarlah sayup-sayup manusia buta bicara..
Inilah yang dinamakan bermoral..
Berasas dan beriman
Sedang yang nampak indera..
Saling hancurkan wibawa, saling memperkosa..
Moncong siapa tunjuk kuasa..
Jatah bergeliat tajuknya sekedar raup nama..
Raup pujian..
Raup citra semata..

Sementara itu, disebar terus kebodohan
Saling tunjuk senjata, meski satu kepercayaan
Sungguh inilah yang menggerayang..
Inilah yang dinamakan bhinneka satu tujuan
Yang dicerca tawa gembel, di bawah lampu merah pinggir jalan..

Tawaku adalah kebingungan, tawa penghinaan atau kesedihan
Tanahku dihamburkan, dijajah saudara sekandung badan
Digali tak sopan, ditanam pasak diurug reruntuhan
Kemuning padi kini bukan kemuning pribumi
Kini agraria tak punya birahi unjuk gigi
Caping enyah perlahan, sabit berkarat, lama tak diayunkan..
Yang bertanam pula..
Bertanam makanan..
Lalu ditabur racun
Dipanen, lalu lahap dimakan..

Inilah..
Ya, ini.. ada rakyat miskin, ada rakyat kaya
Yang sama-sama nafsunya..

Aku tak bertanya sebab musabab, tak pula nampak heran
Sebab dosa turunan, menggunung terus digaungkan
Dibanggakan..
Dieluh-eluhkan..
Diharapkan datang..
Calon bajingan..
Saling bergembira adu kekuatan
Lalu disingkirkan.. dalam dendam kadung ditelan

Negeriku menyerbak mudharat..
Manusia kualat pikiran bejat
Negeriku menyerbak mimpi..
Manusia dari rahim asa..
Dari pikirnya yang berkhayal soal digadya
Meski akhirnya layu
Kalah dengan pengadu
Kalah dengan takhta pengantar elegi
Kalah dengan separatis yang mengaku banyak berarti

Kini aku lihat di surau, di gereja, di kuil, suara para jemaat
Dengar senandung pujian nan khidmat
Do'a-do'a terus terpanjat
Dari tadah korban para lalat
Berjuta tangis, berjuta pinta..
Agar harapan tak diselimuti khianat
Agar mimpi bisa berarti..
Tak berakhir nihil di peti mati..
Tak lagi diberi janji yang palsunya abadi.

AL, 16/1/2018

'Balada Jalang'

Kala dunia kacau balau
Di ayunan insan itu mengigau
Berpadu dengan burung kicau..
Kudengar suara, suara-suara wanita parau

Kutanya dia dalam ragu
Kutanya dalihnya yang ku rasa menggebu
Aku mencoba tanya sebab akibat
Aku tanya apa yang kuat menggeliat
Dia menjawab:
Inilah aku.. inilah aku..
Yang lahir sebatang kara
Yang muncul begitu saja..
Ya, aku kira yang tak diinginkan dunia
Inilah aku.. inilah aku..
Yang lahir tanpa induk..
Yang rahimnya di selokan samping gubug
Akulah yang lahir dari panasnya aspal jalanan
Akulah yang lahir dari deru knalpot angkutan
Akulah yang besar dari mulut-mulut hina
Akulah yang dikecup oleh pedihnya cerca
Ya, aku.. yang sakit.. yang dicumbu ratusan berandal..
Ya, aku.. bernyanyi dalam senandung trotoar

Inilah aku.. yang berjalan dengan bau busuk
Bau-bau luka yang mengering hasil hantam majikan
Akulah.. yang murni..
Yang dibekali oleh sakit alami..
Aku yang ditanam getir
Aku yang tak sanggup lagi berpikir
Aku yang sudah ditelan nadirnya takdir

Makan malamku.. sisa semalam
Makan siangku.. sisa orang-orang
Sedangkan dibelakang, yang menunggu diriku.. diriku yang dipajang
Akulah wanita tanpa nama..
Yang hadir, yang tiba-tiba ada..
Jikalau aku pinta..
Lebih baik aku tak pernah miliki jiwa
Miliki raga.. yang hanya sekedar pemuas birahi semata

Inilah aku.. aku yang satu..
Yang diperkosa waktu..
Yang menunggu..
Menunggu ajal dalam gerogotan candu
Inilah aku.. aku yang mengadu
Yang aku rasa cela di sekelilingku
Yang aku rasa, Tuhan pula membenciku
Inilah aku.. ratapan dalam palsu
Biar saja begini..
Biar saja orang-orang sibuk benahi diri
Sedang aku mati
Supaya tak kotori mimpi-mimpi

Inilah aku.. wanita yang orang bilang jalang
Yang katanya hidup dalam malam penuh erang..
Yang katanya diludahi oleh serigala hidung belang
Aku bukannya tak berang
Aku tak sanggup lagi menyerang
Aku dihimpit oleh gersang..
Gersang hidup..
Mimpiku perlahan menutup

Inilah aku.. yang berlari..
Inilah aku.. yang sampai disini
Dengan luka di telapak kaki
Dengan sakaratul maut yang setia menanti
Inilah aku.. disini aku meratapi
Dan berbicara.. apalagi yang aku nanti?

AL, 19/1/2018

Senin, 04 Desember 2017

'Tilam Dan Lalat Memaki'

'Tilam Ini Dan Lalat Memaki'

Sayang, lelaplah, songsong esok yang katanya engkau nanti
Sayang, rebahkan mimpimu di atas bantal yang penuh kerak ini
Hingga nanti derma waktu daku harap tetap mengikuti
Kubacakan engkau dongeng, kuharap laparku ini tak buatku berhenti

Tutupkan matamu, hitung asa yang engkau tahu
Sudahi malam ini, esok mungkin tak sama lagi
Dipenuhi geliat dimana aku sendiri ingin melihat
Surat-surat dari hati yang mengaku adil dan berotak sehat
Mereka memaksaku memilih..
Memilih dari apa yang ingin mereka raih
Atau aku?
Entahlah, yang jelas lalat diatasku masih setia memaki

Terlihat mereka ramah tamah, dibusungkan di setiap atap rumah
Atau atapku?
Entahlah, yang jelas gentingku tak sekuat itu

Tilam ini dan lalat bangsat yang masih memaki
Aku harap tak menganggu anganku
Angan yang bayangkan esok tak sekedar bualan
Pelipur takhayul yang dulu sering di gaungkan
Ya.. tak sudi ku bercerita..
Ribuan tanya sudah kadung ditanyakan juta-juta kepala

Sayang, tidurlah, jangan pedulikan gerutuku
Ini juga tentangmu, tentang tanah dan suamimu
Kelak mungkin uzur yang akan habiskan kita
Setidaknya selesaikan sengsara..
Tak lagi dengar mereka..
Dan siulannya..
Dan dosa-dosanya..
Di bawah atap ini yang sudah tak terlihat bentuknya
Aku tetap sayang kamu..
Sayang kamu dan sayang percayamu
Meskipun aku berwujud kelabu
Meski aku tahu, sekedar cinta saja tak cukup bagimu
Ini penghinaan yang memang buatku malu.

AL, 4/12/2017

Jumat, 24 November 2017

'Martini'

Di atas rajutan pelataran pertiwi
Tempat lahir, tempat insan mati
Remang fajar surya menyapa pagi
Nampak gulita pekat masih menutupi
Selingi mega-mega tipis remangi mentari
Hidup seorang Martini..
Bergegas hadapi hari

Disela senandung dari bibir Ibu tua
Di dalam angkutan sesak manusia
Beserta kejam hiruk pikuk kota

Dihimpit cerca hitam asap
Melawan debu dengan harap
Harap tanpa terbalas tegap

Martini pamit pergi
Harum minyak wangi melati
Yang teringat selimuti hari
Ibu guru berseragam rapi
Telapak Martini tunjuk langkah hakiki
Menuju peraduan..
Gerbang sekolah senin pagi

Uzur usia, tanggung jiwa-jiwa
Jiwa-jiwa yang dahaga
Jiwa-jiwa muda
Jiwa-jiwa gelora berkalang cita
Martini hantar jendela
Genggam buku di lengan kirinya

Semakin lunglai terlihat dari jauh..
Martini kian nampak rapuh
Namun karena janjinya teguh
Kukuh dalam jutaan tetes peluh
Peluh-peluh hantar gemuruh
Langkah Martini amat tangguh

Selaksa cerita cukup lama Martini ajar kita
Ajari kau bercerita tentang dunia
Ajari kau membuka jendela kala kau buta
Sementara hari semakin terik menjadi
Martini pun enggan berhenti
Sebab ratusan telinga masih sigap menanti

Dari goresnya di papan tulis
Dari tegasnya Ia bubuhkan garis
Sematkan ajar ilmu pasti
Mulutnya senantiasa berkata tanpa henti

Lonceng pulang bak genderang
Raut senang para prajurit perang
Martini terhuyung, langkahnya bimbang
Pandangnya kurang, rapuh tulang
Martini kembali ke peraduan
Hadapi kembali jerih payah kehidupan
Temui hari ini, lusa hingga hari depan

Seorang Martini cerminan negeri..
Cerminan para pengabdi
Setidaknya dalam bingkai hari ini
Yang setia dalam elegi

Martini semoga sehat sepanjang hari
Agar kelak lihat senyumnya pertiwi
Mencetak masa yang kau perjuangkan
Di balik ribuan telapak tangan

Meski seadanya dalam cerita
Gigihnya abdikan pagi hingga senja
Pahlawan tanpa tanda jasa
Pahlawan di balik jutaan asa

Meski jasamu tak mungkin kami balas
Namun ada di dalam sanubari
Kini kami ada di dalam hidup yang keras
Amanahmu telapak langkah kami.

AL, 18/11/2017

Minggu, 29 Oktober 2017

'Gembur'

Gerutu beradu merdu
Seratus pandu cacahkan gemintang
Dalam wibawa kucurkan semu
Pelipur pedih enggan datang

Para lembu berpadu meski sendu
Lambung keras beringas kering kerontang
Aksara kejora menantimu
Di ufuk teruntuk yang dirindu

Langu menggebu bangunkan kalbu
Genderang datang kerucut menantang
Jiwa tuntas, rontok dari kelu
Lantang bak melintang, garang terbentang

Tak kecut, binasa sosok pengecut
Carut marut konsekuensi absolut
Zaman tak terpagar, terpampang lebarnya
Jalan suara alirkan derasnya

Gembur sudah tanah
Dipeluk mimpi khayal mahkota nirwana
Dilelang oleh harga kasta
Dihamburkan puas jiwa retorika

Ahh.. pucuk benang masih kusut
Tilam kikuk buram takut
Sampai pada ujung kemelut
Tampak guratnya berkerut

Indera mana tak gulita
Buta mana yang tak nampak adanya
Curam mana kala paceklik melanda
Di tanah yang gembur lantainya.

AL, 25/10/2017

'Balada Garong'

Malam... sunyi hempas wicara
Gembong di lorong bertopeng garong
Langkah tapak perkosa ladang dosa
Kecamuk hati kini melompong

Pelihara tengiknya watak
Pertahankan penghidupan layak
Dua mata merayap pandangi riak
Limbung langkah lamban bergerak

Peluru dari selongsong bedil bodong
Diberondong ketika korban merongrong
Gasak habis hingga kosong
Pilu tangis tak sudi ditolong

Hari ini, lusa nanti, selagi kaki sudi berlari
Balada garong puaskan ambisi

Erang sakitnya.. Hanya mampu dipendam
Hati kecilnya tertimbun, lama diredam

Betinanya di bawah rumah
Gembalakan buah cinta
Hasil rampas kali ini..
Garong tak mau peduli
Saat denting waktu kian larut
Ia beranjak pergi
Tuju WTS, menghibur diri
Tenggak tuak rebahkan pundak sampai kaki

Tergiling terpontang-panting
Wajah terpampang di polres sewaktu meeting
Ya, kini tinggal hadap genting
Garong berlari terkencing digiring menuju puing-puing

Lari berlari hindari mati
Garong terlumat jaring polisi
Timah diarahkan ke langit, garong berkelit
Belukar semak Ia coba sembunyi
Timah meletus lubangi punggung hingga tembus
Jantung direbus, garong mampus
Tergeletak pasrah tubuh kurus

Betinanya mengadu..
Gembalakan pilu
Kini hanya ujung pintu yang dia tahu
Selimut malu, diombang ambing waktu
Dan adakalanya..
Betinanya tak sanggup
Sudahi hirup redup
Racuni diri bersama si gembala..
Yang belum tuntas jalani hidup.

Balada Garong..
Tinggalah bohong.

AL, 27/10/2017

'Aku Dan Sastra :2'

Seyogyanya aku tak bicara..
Kosong dan aku harapkan pencari makna
Disetiap coret apa yang ku cipta

Setiap rasa sekedar ditabur tanda-tanda
Kemudiku hanya tentang Aku
Ya.. aku..
Kendalikan makna, bubuhkan frasa.

AL, 29/10/2017

'Aku Dan Sastra :1'

Tariannya, tentang makna berputar dalam kepala
Secuil kata, seribu bahasa
Cernaku saat netra yang bicara
Saat telinga tuliskan suara
Aku dan sastra, berbicara dalam binar cahaya
Di ruang sempit, tengkuk meringkuk
Tatap candradimuka, padukan indah retorika

Telisik retoris ketika paru-paru kembang kempis
Frasa yang nampak percuma
Tanyaku terjawab pada akhirnya
Aku dan sastra, rasa cinta dalam kata

Melingkarkan ikat supaya melekat
Kalimat setiap diksi yang menjerat
Aku dan sastra seringkali bercerita
Cinta hingga duka
Dunia dan isinya..
Aku dan sastra..
Dengarlah diriku sesungguh apa adanya.

AL, 29/10/2017

'IV: ¡Ya Basta!'

Hitam, bertopeng hitam
Bintang merah berlatar kelam
Di atas bukit terjal mustahil diredam

Singa-singa di ufuk utara
Mengaum dalam hening
Berpesta dalam kening sederhana
Terlihat petani pandangi gandum kemuning

Hingarnya tak terasa
Namun getarnya merobek jiwa
"¡Ya basta!" Ujar mereka
Di semenanjung penuh problema

Relung-relung terisi teriakan Commandante
Mendung-mendung dengarkannya
Meski gedung-gedung tampak buta
Di sebuah bukit hidup punggawa asa
Berjiwa merah, bertanduk utopia..
Geloranya seiring kencang kibar bendera
Ditanah Maya.. genderang Zapatista.

AL, 29/10/2017

'III: Hasta La Vista, Fulgencio'

Pasung Batista, di tanah surga
La Havana saksi kisruh mata, api dan manusia
Kecamuknya menujam netra
Tentang murka binarnya mahkota singgasana
Dan lekatnya darah Moncáda..
Semilir kenang tentang mereka yang mati dalam perang
Martir-martir dalam puing gerilya remang
Tambah derita diberondong timah Granmai
Dari Sierra Maestra menuju hilir kota..
Hunus pribumi dan pencerutu Argentina

Maka tuntas jalan sudahi cerita
Bidak-bidak menaiki kepala raja
Jendela dilubangi timah
Tonggak-tonggak tirani perlahan patah
Di bakar angkara murka jelata lemah

Revolusimu.. gerilyamu..
Nadi bergelut dengan tajam ujung waktu
Dan panasnya ujung peluru
Berpadu beradu ribuan pandu

Larilah! Larilah menuju terusan itu..
Gentar jiwa tak sanggup mendulang senja
Fulgencio menggerutu
Kasta tak lagi punya makna
Revolusi benderang adanya
Di tanah bernamakan surga
Santiago de Cuba.. Sierra Maestra.. Havana..
Hasta La Vista.. Batista.

AL, 29/10/2017

'II: Bolshevik 19'

Ujung tombak menari tuduh hirarki
Mulakan heroik para penari revolusi
Terpejam mahkota dilucuti
Bidak-bidak jenuhkan suci yang mengaku abadi

Gerobak datang! Gerobak menantang!
Pria berjubah lantang di tanah lapang
Ulas kenang sekarang Ia menang
Zaman hilang ditelan remang

Rindang-rindang bayonet perang
Di telapak petani garang berwajah girang
Cerca tiang-tiang istana terbentang
Birokrat tak becus kini tinggal ladang gersang

Peluh! Darahnya di lantai..
Ramai membantai!
Dua sisi genggam benteng
Mentari tak sanggup melerai

Namun bendera kini terkibar, nampak lebar
Di pucuk istana bisu tak berujar
Bubar! Bubar! Lembayung temani barbar
Kibarlah kibar, di tanah orang-orang lapar
Kejarlah kejar, setan yang hanya mampu mengakar

Vlad.. Vlad.. Vlad..
Di Oktober milik Vlad
Orasi memanjang bak deras Lena
Bangunkan jiwa-jiwa membabi buta

Sembilan belas..
Tujuh belas..
Vlad tanpa belas kasih
Dalang mereka yang tersisih
Diatas tanah yang tak lagi bersih
Alasnya darah dan peluh letih.

AL, 29/10/2017

'I: 18 Brumaire'

Jejak tapak kaki di tanah semakin menjadi
Hirau curamnya tandakan celaka
Bagai naluri tak bertuan insan
Pelana kuda sekedar alas telapak tangan

Bekas tapal kudanya dalam membekas
Retak kering diterjang panas
Perduli apa Ia pada langit nan luas
Lantas kembali dia rampas wajah tertindas

Citanya memang ungkap empedu
Berkarat kerak memang sejak dahulu
Moyangnya haru dijajah pilu
Asanya congkel semua ragu

Untuk kembali dan tuntut durjana
Durjana yang julurkan lidah hisap semua

Drakula-drakula di gorong-gorong kota
Perisai kayu di leher sang kuda
Berzirah gerilya entaskan semua
Sesampainya puncak segala euforia

Tapal ini menjadi saksi
Walau akhirnya tertiup badai
Namun nafasnya berpadu bersama angin
Membisikan jiwa-jiwa dalam pendar lilin

Rasalah.. sejuknya pemberontakan
Nikmatilah hangat mentari di ujung mata kaki
Nikmati sampai di ujung ubun terpayung awan
Dengan tangisan melawan..
Menantang tabir elegi..
Meski guntur tampak enggan 'tuk pergi

Di bawah tapal ini dia bersaksi
Di bawah tapal ini dia semakin menjadi
Di bawah tapal ini lahir pengubah jati diri
Di pelana kuda dia terus berlari tak sudi berhenti.

AL, 29/10/2017

Kamis, 26 Oktober 2017

'18:02 WIB'

Membabi buta benamkan diri
Dalam logika yang sudah kadung mati
Di redup senja, ku sempat bertanya
Di mana Nyonya kini berada

Dipasrahkan keluh, dihipnotis rindu
Mendung malam bercampur dingin beku
Dedahan ranting, gesek berdenting
Di tanah kupandangi, ya... memang tak penting

Namun ceritaku, sebuah dilema
Di ujung dunia, di angkasa raya
Dalam hidup nyata, atau dalam bayang cinta
Tak bisa dilukiskan atau diujarkan
Tak sanggup diumbar atau dipaksa keluar
Biarkan pikirku berkelana..
Mencari apa yang ada...
Berkawan gelora, dalam pendar lampu kamar

Mungkin rumit ku ungkap kata..
Dan kini sebuah cerita cinta..

Juntai-juntai rintik gerimis
Turun manis bak kapas teriris
Sejenak hibur diri, meski dalam tragis
Nyonya, engkau dimana?
Ku cari di semak belukar, di beton terselimut akar
Nyonya, kembalilah tunjuk rupa
Biar kupandangi satu-satu mata
Agar ku tak menyesal akhirnya

Nyonya?
Ingatkah dikau meja kayu itu?
Tempat dimana ku hadap selalu dirimu
Ku mainkan jari yang tak panjang berkuku
Kulihat senyum pipi di wajahmu
Namun kini kau kelabu..
Kau penuh ragu..
Kembalilah Nyonya..
Surati diriku..

AL, 26/10/2017

'90 Menit'

Bola diterjang, menyerang lawan
Gocek menggiring depan gawang
Sebelas orang, ganti menendang
Umpan kanan kiri cari kawan

Ada penyerang sibuk berlari
Di ujung, dia kosong berdiri
Sadar bek lawan, hantam tak peduli
Terjang kuat patahkan kaki

Di kotak penalti, wasit meniup peluit
Penyerang menggelepar merintih sakit
Angkat diangkat sebelah tangan
Kartu merah jadi balasan

Datang dari belakang
Bogem mentah melayang
Kalut pemain termakan berang
Lapangan rumput bak arena perang

Tribun bergetar digilas penonton sangar
Turun lapangan saling hajar
Darah segar basah keluar
Ada yang terkapar namun tak gentar

90 menit bermain
Setengah main, saling merongrong
Akhir tanding, adu bagong

90 menit disini
Tak ada yang mengerti
Sebab bola itu bundar
Pemainnya kasar
Penontonnya tak sadar.

AL, 24/10/2017

Sabtu, 21 Oktober 2017

'Gelandangan'

Atap langit lantai tanah
Didepan ruko mencari alas lelap
Tak berselimut menggigil resah
Berkawan tikus di senyapnya gelap

Rambut gimbal tubuh dekil
Hidup diatas dunia yang nampak tak adil
Tersisihkan tanpa teman
Tatap jijik pengguna jalan

Tetes air matamu malam itu
Seakan berdialog dengan waktu
Teriakanmu memekakan telinga bak benalu
Menuntut takdir diantara belenggu

Tuhan tolong dengarlah
Ratapnya berjuta masalah
Terdiam sepi di bawah lampu merah
Termenung kosong berpayung gelisah

Mereka yang terkapar
Di sisa gentar yang terbongkar
Fajar ini ada lagi yang mati
Cerita lama terulang kembali

Penguasa dengarlah kini
Saat nuranimu sedang diuji
Hatimu sedang dicaci
Pikiranmu sedang dimaki
Setiap gerakmu selalu dinanti

Teduhkan mereka
Seakan kau adalah orang tuanya
Rangkul bahu mereka
Seakan kau menjawab setiap tanya.

AL, 21/10/2017

'Dan Mereka Yang Sanggup Berdiri'

Peluhnya menetes
Telapaknya penuh luka
Dengan sederhana
Jalani pedihnya masa
Walau tahu jiwa
Tak jadi alasan terjatuh dengan mudahnya

Di atap rotan
Berlantai tanah
Dinding kapur
Dapur penuh lumpur

Meski tubuh t'lah renta
Meski usia tak lagi sanggup bicara
Dan mereka yang sanggup berdiri
Dan mereka yang sudi tertawa
Di gubug penuh duka.

AL, 21/10/2017

close
Test Iklan