Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Januari 2018

'Kampungku, Di Reruntuhan Dinding'

Lembah sunyi, reruntuhan puing dibawah daging
Kampung di tonggak pondasi bekas dinding
Yang diatap tenda.. dialas terpal
Merambat dingin, ditembus panas..
Ditenteng airnya.. ditenggak keluarga
Disana ada kepala, yang harapkan langkah dari perihnya telapak berlumur nanah..
Jerit si kecil, di bekas sarangnya..
Yang sebelumnya dicekok cinta.. janji.. didustakan sesama..
Kini tinggal puing-puing bekas runtuhnya dalih penguasa..
Sementara mulut si pengumbar asa kian lantang sambut bursa kuasa
Fahri kecil merengek diayun-ayun Ibunda..
Supaya lelap tidurnya..
Supaya lapar tak terasa nyerinya..
Memang nyeri adanya, nyeri balita lemah di tanah bekas rahim peristiwa

Muslihat disusun rapi saat itu..
Rata sudah tanah tanpa nama, katanya..
Kata mereka yang hingga kini tutup mata..
Memang, kata-kata penguasa harus ditaati bersama..
Sebab yang berkuasa..
Kini duduk di atas sofa..
Namun yang kini tanggung porak-poranda
Bidaknya.. Kacungnya.. Seribu mimpi dilindas siksa

Kampungku, menjelma pucuk ranting
Tak lagi bermukim damai, mimpi penghuninya perlahan kering
Kampungku, di runtuhan dinding
Bekas dusta para maling
Diikat dalam pelik, ratusan sengsara ditunjuk nyata
Tanahku tiada..
Tanahku kini rata..

AL, 11/1/2018

'Pantun Satu Kepala'

Jelaga tirta luapkan bencana
Tanah kering jadi samudera
Manusia hilang nalarnya
Berjuta wicara perang saudara

Ilalang kemuning tunggu mati
Mega menguning tanda senja
Siapa raga ujarkan dengki
Ia setan berwujud manusia

Dedahan ranting ujungnya kering
Lembayung langit jangan dipandang
Saling memaki teramat sering
Mudharat bejat ramai rindang

Kucing hitam di pinggir selokan
Tikus selokan lari terbirit
Ramai gontok sebab junjungan
Setan-setan tertawa menjerit

Mahkota jatuh diambil siapa?
Mahkota jatuh diambil penemu
Bursa kuasa dibagi kolega
Rakyat sekedar benalu

Orang mati lantas dikubur
Jadi kerangka tak ada guna
Jikalau penguasa mulai takabur
Mulutnya busuk tak pantas dicerna

Beras pulen, nasinya sedap
Tak sedap jikalau basi
Sudah tahu periuk tak berasap
Tetap saja dikibuli janji

Benih-benih ditanam petani
Runduk menguning dimakan tikus
Calon wakil dijunjung tinggi
Sudah jadi, rakyat tak diurus

Kecebong bercecer di lubang comberan
Comberan kering kecebong kelojotan
Mulut manis bicara bak kesetanan
Mulut ditagih cari-cari alasan

Buah kedondong dimakan sedap
Hati-hati sebab bijinya berduri
Periuk rakyat tak lagi berasap
Tikus kantor tak henti mencuri

Deru kereta terdengar telinga
Di stasiun berdesak penumpang
Sadarlah sadar wahai manusia
Dosa kuasa nyata terpampang.

AL, 14/1/2018

'Bahadur'

Mimbar mendabik dada
Sontak bendera digenggam
Dikibarkan menyalami jelata
Urusan calon menyalon, panggungnya dagelan
Dari tempo hari, bercampur tradisi
Bukan lagi tabu, bukan lagi keanehan
Sekedar budaya, ini soal kantong Tuan

Disini yang menanam janji
Disana cipta yang anarki
Anomali musim ini..
Musim animo menjadi-jadi
Padmasana..
Mendayu, merayu..
Sesumbar, asal pintar berkelakar
Jabatan dipajang..
Di depan liur serigala, melolong tak ada hentinya..
Serigala pajuh..
Taringnya setajam tanduk lembu..
Namun rapuh..
Mudah luluh..
Di hadapan kotak makan
Saling terjang tak kenal kasihan

Yang sesumbar, yang terbakar
Orang lapar, yang dihajar..
Saling sogok asal tak nampak
Kalaulah nampak, jadi raja elak

Mimpi pengantar kini didusta kasar
Dihasut orang pintar, atau orang paling benar
Kini mahsyur...
Tukang gali kubur hidupnya makmur..
Layani yang bertempur
Tipuan hasutan..
Yang termakan bujukan setan..
Dijanjikan tanah mujur..
Dikira nasi ternyata lumpur

Sebab musabab apa gerangan?
Sebab sedang ramai main tipuan
Sebab bermuka dua jadi andalan..
Kuasa hura-hura cari omplengan
Sudah jadi, bergiliran bayar setoran..
Rakyatnya polos tak bergeming
Rakyat jadi korban..

Sebab jatah kini diatur
Disebar rata selang air mancur
Ada rakyat mati junjung bahadur
Bela jagoannya sampai gugur.

AL, 14/1/2018

'Asmara Satu Rupa'

Semayamnya surya, bukan pertanda
Redupnya, perlahan pelik dirasa
Terkadang menyadur makna, dari dua bola mata
Entah, lidah mulai kelu ujar wicara..

Dari alirnya semburat purnama
Basahi insan, derma harapan
Hati berlumut, berpagut semu
Dirintihan suara, soprano..
Menawar Ia, laksana taruhkan wibawa..
Kisah insan, tanpa nama..
Cinta..
Terbisik dari gempita sasana asmara
Ya.. mungkin pula dari decit kayu bingkai foto
Ini cinta dari remah lamunan lama
Bukan balada John dan Yoko
Bukan Habibie dan Ainun..
Ya.. Tetapi daku majenun!
Akalku.. berhenti menenun
Ahhh!! Segelintir warasku berpaling muka
Kerana Ia, gulitaku sengsara..
Ahhh!! Kenapa?
Dari mata itu, aku dilempar angin
Mengayuh dalam dingin
Sementara, asap hitam beranjak memilin

Hendaknya rasa ini kadung dalam..
Beranjangsana, sanubari ikuti mata.. dan rasa
Bida-bida tercecer, dari warna yang ragam adanya
Namun aku bukan cendala..
Bukan menitih palsu saja..
Aku cinta..
Termakan candunya..
Candu dari engkau, yang entah kini semakin semu: dan bayangannya pula..
Adakalanya menari-nari dalam pikirku..
Kuadukan pada waktu..
Pada belantara..
Pada candra, yang perlahan butakan netra
Ya sudahlah, ini juga tak apa..
Tak apa buta..
Biar sesalku tak jadi selamanya..
Biar rupamu tak lagi tengok raga..
Entah, aku hanya cinta

Lagipula semua hanya cerita
Tak lagi sama..
Ya sudahlah!!
Tuntaskan saja!
Kerana mungkin takkan ada yang sebenarnya!
Aku cinta..
Aku pula yang dihina
Yang terpasung satu rupa!
Aku cinta..
Aku cinta..
Mungkin satu rupa, di jiwa..
Mungkin raga; mata, lidah, dan suaranya
Yang seonggok dagingpun sesalkan datangnya..
Kini aku tunduk habis jumawa
Hilang digdaya..
Dalam cerita..
Berangsur ikuti temaram senja.

AL, 7/1/2018

'Kala Cakrawala Gaungkan Asa'

Selamat pagi, siang, malam
Yang menari, mabuk.. yang tenggelam dalam pandang buram
Yang menanam, yang kelam, yang hidup di pinggiran malam
Ini kisah, kisah hasil jamah..
dijamah kecamuk pikir manusia-manusia resah

Ini tentang penyakit yang mewabah
Beranak pinak diantara orang lemah
Ideologi..
Niscaya percaya sekedar caci maki
Makan pagi hari ini
Dikenyangkan onani..

Aku banyak melihat di layar kaca
Yang hasil kredit..
Sakit teramat sakit, orang sakit ramai menjerit
"Nyawa ditodong harga" bait-bait para bandit
Meski derita tampak mata, tunggu mati sebab berbelit
Bangsal mahal kosong adanya, ditunggu orang-orang berduit
Juga dipesan untuk pendusta..
Yang kemarin saya lihat bersandiwara..
Kacung rakyat yang mengaku elit

Aku bosan melihatnya, merasuk jiwa hingga tak mampu bicara
Sore itu.. dimana-mana seribu problema..
Lansia kehilangan atapnya.. di siang bolong disita grandong
Banyak pengerat di comberan, siul berdecit cari makanan
Papan tulis kosong di bawah kolong, papan tulis mahal milik juragan
Saling sogok adu taruhan, yang lahir calon bajingan
Nampak pula yang mencoba berdiri, diatas semak belukar
Sementara pengkhianat perlahan datang, semak dibakar..

Seribu tanya menghardik logika
Kita adalah sang tuan berwujud budak..
Disana mahkota gila kuasa.. asal nominal tajam menggoda
Yang memilih sekedar kunyah ampas, genting bocor, tembok retak
Sang pemberi takhta kini dihina, dilempar dedak
Lalu yang sudah bernama, disuguh candu, ditenggak sampai tersedak

Dengarlah sayup-sayup manusia buta bicara..
Inilah yang dinamakan bermoral..
Berasas dan beriman
Sedang yang nampak indera..
Saling hancurkan wibawa, saling memperkosa..
Moncong siapa tunjuk kuasa..
Jatah bergeliat tajuknya sekedar raup nama..
Raup pujian..
Raup citra semata..

Sementara itu, disebar terus kebodohan
Saling tunjuk senjata, meski satu kepercayaan
Sungguh inilah yang menggerayang..
Inilah yang dinamakan bhinneka satu tujuan
Yang dicerca tawa gembel, di bawah lampu merah pinggir jalan..

Tawaku adalah kebingungan, tawa penghinaan atau kesedihan
Tanahku dihamburkan, dijajah saudara sekandung badan
Digali tak sopan, ditanam pasak diurug reruntuhan
Kemuning padi kini bukan kemuning pribumi
Kini agraria tak punya birahi unjuk gigi
Caping enyah perlahan, sabit berkarat, lama tak diayunkan..
Yang bertanam pula..
Bertanam makanan..
Lalu ditabur racun
Dipanen, lalu lahap dimakan..

Inilah..
Ya, ini.. ada rakyat miskin, ada rakyat kaya
Yang sama-sama nafsunya..

Aku tak bertanya sebab musabab, tak pula nampak heran
Sebab dosa turunan, menggunung terus digaungkan
Dibanggakan..
Dieluh-eluhkan..
Diharapkan datang..
Calon bajingan..
Saling bergembira adu kekuatan
Lalu disingkirkan.. dalam dendam kadung ditelan

Negeriku menyerbak mudharat..
Manusia kualat pikiran bejat
Negeriku menyerbak mimpi..
Manusia dari rahim asa..
Dari pikirnya yang berkhayal soal digadya
Meski akhirnya layu
Kalah dengan pengadu
Kalah dengan takhta pengantar elegi
Kalah dengan separatis yang mengaku banyak berarti

Kini aku lihat di surau, di gereja, di kuil, suara para jemaat
Dengar senandung pujian nan khidmat
Do'a-do'a terus terpanjat
Dari tadah korban para lalat
Berjuta tangis, berjuta pinta..
Agar harapan tak diselimuti khianat
Agar mimpi bisa berarti..
Tak berakhir nihil di peti mati..
Tak lagi diberi janji yang palsunya abadi.

AL, 16/1/2018

'Balada Jalang'

Kala dunia kacau balau
Di ayunan insan itu mengigau
Berpadu dengan burung kicau..
Kudengar suara, suara-suara wanita parau

Kutanya dia dalam ragu
Kutanya dalihnya yang ku rasa menggebu
Aku mencoba tanya sebab akibat
Aku tanya apa yang kuat menggeliat
Dia menjawab:
Inilah aku.. inilah aku..
Yang lahir sebatang kara
Yang muncul begitu saja..
Ya, aku kira yang tak diinginkan dunia
Inilah aku.. inilah aku..
Yang lahir tanpa induk..
Yang rahimnya di selokan samping gubug
Akulah yang lahir dari panasnya aspal jalanan
Akulah yang lahir dari deru knalpot angkutan
Akulah yang besar dari mulut-mulut hina
Akulah yang dikecup oleh pedihnya cerca
Ya, aku.. yang sakit.. yang dicumbu ratusan berandal..
Ya, aku.. bernyanyi dalam senandung trotoar

Inilah aku.. yang berjalan dengan bau busuk
Bau-bau luka yang mengering hasil hantam majikan
Akulah.. yang murni..
Yang dibekali oleh sakit alami..
Aku yang ditanam getir
Aku yang tak sanggup lagi berpikir
Aku yang sudah ditelan nadirnya takdir

Makan malamku.. sisa semalam
Makan siangku.. sisa orang-orang
Sedangkan dibelakang, yang menunggu diriku.. diriku yang dipajang
Akulah wanita tanpa nama..
Yang hadir, yang tiba-tiba ada..
Jikalau aku pinta..
Lebih baik aku tak pernah miliki jiwa
Miliki raga.. yang hanya sekedar pemuas birahi semata

Inilah aku.. aku yang satu..
Yang diperkosa waktu..
Yang menunggu..
Menunggu ajal dalam gerogotan candu
Inilah aku.. aku yang mengadu
Yang aku rasa cela di sekelilingku
Yang aku rasa, Tuhan pula membenciku
Inilah aku.. ratapan dalam palsu
Biar saja begini..
Biar saja orang-orang sibuk benahi diri
Sedang aku mati
Supaya tak kotori mimpi-mimpi

Inilah aku.. wanita yang orang bilang jalang
Yang katanya hidup dalam malam penuh erang..
Yang katanya diludahi oleh serigala hidung belang
Aku bukannya tak berang
Aku tak sanggup lagi menyerang
Aku dihimpit oleh gersang..
Gersang hidup..
Mimpiku perlahan menutup

Inilah aku.. yang berlari..
Inilah aku.. yang sampai disini
Dengan luka di telapak kaki
Dengan sakaratul maut yang setia menanti
Inilah aku.. disini aku meratapi
Dan berbicara.. apalagi yang aku nanti?

AL, 19/1/2018

Senin, 04 Desember 2017

'Tilam Dan Lalat Memaki'

'Tilam Ini Dan Lalat Memaki'

Sayang, lelaplah, songsong esok yang katanya engkau nanti
Sayang, rebahkan mimpimu di atas bantal yang penuh kerak ini
Hingga nanti derma waktu daku harap tetap mengikuti
Kubacakan engkau dongeng, kuharap laparku ini tak buatku berhenti

Tutupkan matamu, hitung asa yang engkau tahu
Sudahi malam ini, esok mungkin tak sama lagi
Dipenuhi geliat dimana aku sendiri ingin melihat
Surat-surat dari hati yang mengaku adil dan berotak sehat
Mereka memaksaku memilih..
Memilih dari apa yang ingin mereka raih
Atau aku?
Entahlah, yang jelas lalat diatasku masih setia memaki

Terlihat mereka ramah tamah, dibusungkan di setiap atap rumah
Atau atapku?
Entahlah, yang jelas gentingku tak sekuat itu

Tilam ini dan lalat bangsat yang masih memaki
Aku harap tak menganggu anganku
Angan yang bayangkan esok tak sekedar bualan
Pelipur takhayul yang dulu sering di gaungkan
Ya.. tak sudi ku bercerita..
Ribuan tanya sudah kadung ditanyakan juta-juta kepala

Sayang, tidurlah, jangan pedulikan gerutuku
Ini juga tentangmu, tentang tanah dan suamimu
Kelak mungkin uzur yang akan habiskan kita
Setidaknya selesaikan sengsara..
Tak lagi dengar mereka..
Dan siulannya..
Dan dosa-dosanya..
Di bawah atap ini yang sudah tak terlihat bentuknya
Aku tetap sayang kamu..
Sayang kamu dan sayang percayamu
Meskipun aku berwujud kelabu
Meski aku tahu, sekedar cinta saja tak cukup bagimu
Ini penghinaan yang memang buatku malu.

AL, 4/12/2017

Selasa, 08 Agustus 2017

'Bantaran Seberang Gedongan'

'Bantaran Seberang Gedongan'


Bantaran bernyanyi berdebat takdir
Bantaran menyebut wakil seperti pengusir
Berlantai aspal luka sudah terlampau anyir
Berjuang melunta mengutuk insan kikir
Bisikan bisu mereka yang berdiri diatas nadir
Berucap mencela mereka yang mengaku pemikir

Minggu, 06 Agustus 2017

'Tanah Fana'



'Tanah Fana'


Rintihan berjuta nisan tanpa dosa
Terbuang sia-sia sekedar jadi penyambung cerita
Erangan mereka yang tak mampu lagi bicara
Burung nazar kicaunya di ubun kepala
Derap langkah bagai tiada lagi makna
 

Jumat, 04 Agustus 2017

'Angan Anarki'

'Angan Anarki'


Maka terlelap untuk sekian kalinya
Di dalam kepalaku, bekas ketakutan
Untuk menjadi sebatang kara
Untuk segalanya coba menjauhkan
Drama opera didalam kebohongan
Ku tak ingin sejenak hanya bicara

Sabtu, 29 Juli 2017

'DICLVX'

Kita umpan dan sisipan tersamarkan
Dalam realita dua sisi koin kemunafikan
Kekuasaan dalam russian roulette
Kau bermain untuk imitasi corvette
Kita mangsa, satu mata menyaksikan
Segitiga tertindaskan, kaya miskin dibutakan


Dalam drama, paduan suara Abraham
Kutuk fiksi pada masa kuasa Saddam
Seperti hyena mencekik suara
Fatamorgana tangisan berujung bencana
Dua atap runtuh, di depan wanita
Ilusi setiap tombol, tua dan muda

Kamis, 20 Juli 2017

'777'

 '777'


Tak ingin ku terluka karena-Nya, tak ingin ku terus berlumur dosa
Engkau yang ciptakan semua, jika Engkau tunjukan caranya
Kau menjadi katalis ku, di pikiranku seperti coba menelan
Tunjukanku sesuatu, tak ingin ku tenggelam dalam banyak ujian

Aku akan menunggu-Mu untuk tunjukanku jawaban
Bahwa segalannya akan menenangkanku dalam iman

Jumat, 14 Juli 2017

'Asa'



'Asa'

Riuh sunyi sepi lembayung pagi perlahan menutupi
Bintang fajar semakin redup diiringi senandung mengaji
Jengger belum sempat tunjukan suara bangunkan semesta
Caping-caping mulai terbangun di kampung agraria
Yang kini lahan mereka kian sempit ditumbuhi pondasi
Bapak bilang "Semen mereka tak bisa dipanen jadi nasi"


Rabu, 05 Juli 2017

'Geronimo'

'Geronimo'


Apa yang kau dapat ketika kau coba melawan?
Apa yang kau inginkan ketika damai telah kau lupakan?
Biarkan kau tahu ketika kau hancur dalam kepingan
Dan mereka tenggelam dalam darah tangisan
Ketika kau berdiri diatas padang pasir penuh timah berserakan
Kau penuhi perintah, kemudian kau sadar untuk kembali pada kematian


Selasa, 04 Juli 2017

'Gospel'

'Gospel'

Mengangkat teori fana menerka eksistensi epilog dunia
Kau rela mati sedangkan kebohongan ada di depan mata
Kau biarkan Lucy merasukimu, membuatmu berpikir
Menjadi martir untuk setiap dosa yang telah kau ukir
Bawalah ku di taman-taman khayalmu sekarang
Seperti saat kau mengizinkan mereka lancang didalam perang
Hingga kau berpikir meletakan panji untuk berhenti memuji
Bahwa yang mati tidak akan kau lihat abadi


Kamis, 15 Juni 2017

'Fanon'

 'Fanon'

https://krasak17.blogspot.sg/2017/06/fanon.html

Sebelumnya wibawa bagai Mahatma dan Mandela
Hanya untuk romansa etika penggoda KKN berujung KKK
Mereka tundukan kasta dalam ronde-ronde Russian Roullete
Untuk kita saksikan mereka duduk dibalik kursi Corvette


Jumat, 09 Juni 2017

'Rumput-Rumput Anarki'

'Rumput-Rumput Anarki' 

 


Rumput-rumput dibawah telapak membekas jejak kesombongan
Mereka menggenggam kunci mencoba menciptakan nyanyian
Rumput yang tunduk tak mampu tegak dalam hujan
Sekian kuasa coba saling memberikan satu tegukan 

Selasa, 09 Mei 2017

'Monumental'

'Monumental'

Suara yang keras membangunkanmu seperti percikan di Afghanistan
Alarm keras Pearl Harbor dan setiap masa yang benar-benar menyakitkan
Bicara selayaknya suara gerobak dibawah kaki Ilyich Lenin
Dan memaki sesuatu lalu membukanya seperti Borish Yeltsin

Mengadapi realita mengatakan fakta bak Mumia
Walau kepala terasa panas oleh timah AK
Ku tak bertindak seperti seorang Lady Liberty
Memberikan sebuah kenangan seperti langit Ho Chi Minh City



Sabtu, 18 Maret 2017

'Hampa'

'Hampa' 

Untuk sebuah perjalanan ketika seluruh kota terlelap 
Nafas menunggu dibalik dinginnya senyap 
Suatu saat kuberharap seseorang menemukanku 
Atau setidaknya mendengar deru jantung dibalik pintu 


Senin, 13 Maret 2017

'Dongeng Terakhir'

'Dongeng Terakhir' 


Langit biru saat kita menemukan kedamaian 
Sampanye dihadapan mereka dan nyanyian serentak terdengar 
Bukan sebuah firasat bukan sebuah perasaan 
Jam berdenting mengiringi tengah malam yang terbakar 

Semua kenyataan menjadi abu dalam tegukan 
Tarian dan senyuman, tubuh dalam kematian 
Ibu, mereka tak bisa pulang malam ini 
Karena mereka telah pulang dalam sebuah peti 

Mereka tak ingin terbakar sia-sia 
Ibu, mereka memanggilmu dalam teriakan 
Walaupun terlambat, mereka terlelap dalam kesakitan 
Berikan dongengmu malam ini agar mereka bisa terlelap meninggalkan.



-AL
close
Test Iklan