Senin, 23 Maret 2020

'Neraka Orang-Orang Kota'

Neraka orang-orang kota, berada di lampu merah dan persimpangan jalan raya...
...di trotoar dan di wabah kemacetan
Neraka orang-orang kota, berada di lantai kantor yang berhimpitan berebut cahaya
...berada di jam makan siang dan makan dengan dompet pas-pasan
Neraka orang-orang kota, berada di meja kerja...
...di jatah lembur yang membuat mereka lupa punya keluarga, anak istri dan mertua

Neraka orang-orang kota... bukan nampak hiperbola, ini dari cerita para pengais pundi-pundi harta
Tidak serta merta menjadi orang kota adalah buruk rupa, atau semacam fauna
Jelas penghinaan! Orang-orang kota pula orang-orang mulia
Yang menafkahi diri serta lain manusia, yang memotong jatah bersandar di sofa dengan giat mendatangi palagan candradimuka
Orang-orang kota bukan hanya sekumpulan ras tanpa rasa
Ia berkutat penuh pada hidupnya, orang kota tak habis nurani pula cinta
Orang-orang kota adalah penyeimbang, pemandu langkah dunia
Yang bergerak semakin maju, mengais zaman-zaman yang kan tertuju
...
Maka orang-orang kota janganlah engkau lupa...
Nerakamu ialah mesin penggerak roda
Yang kau hidupi di dalamnya...
Kami hanya berdo'a
Kerana kami satu wujud sesama manusia
Bergeraklah, terus berkacalah, terus bermuhasabah
Agar tetap bersama, saling merangkul tangan supaya tak hilang imbangnya
Jangan kau pincang untuk melangkah...
Jangan pernah menyerah...
Jangan pernah buruk bertingkah
Apalagi serakah..
Karena nerakanya orang-orang kota
Adalah ladangnya memanen swarga.

AL, 18/7/2019

'Cacing-Cacing Tanah'

Bumbung-bumbung rundung luntang-lantung
Gunung-gunung perawan murung, janda gorong-gorong gedung
Tikar-tikar gulung artinya pertanda, bakar-bakar lumbung, busung-busung lambung
Pondasi-pondasi meluber, batas habis kampas
Ruas-ruas terka lemas
Jalan keluar ialah rampas

Anarko kapital, taman-taman bani kantung tebal
Metamorfosa Daud Goliath
Cacing-cacing tanah liat
Mati dipenggal, remuk dilumat

Tanah persinggahan
Jadi paving sewaan
Tanah turun meteran
Amblas tak karuan

Kemerdekaan...
Hanya ada di pantat
Saat kita termenung di lubang kotoran

Hak bicara...
Hanya ada di dinding MCK
Hasil kerja kuli upah rendah

Bahaya laten
Adalah baton resimen
Di urugan industri semen
Topi baja isi sentimen

Kemerdekaan...
Hidup di pembebasan lahan
Senang hati
"Tanahmu ku bayar harga di bawah banderol pasaran."

AL, 4/3/2020

'El Mañana'

Dan aku mengambil lebih banyak senjata dan merangkai pandai kata-kata
Aku menginginkan lebih banyak tamak dan harta kaya
Dan aku memelihara lebih banyak prajurit, lebih banyak panglima
Aku akan membentangkan garis sebagai batas, aku akan menjadi tunawisma dan aku akan menjadi putera mahkota
Akankah kita seberangi bersama?
Bersama keturunan dan sebaya
Bersama tanah, air, udara dan cahaya?

Lumrah adanya jikalau tanahku menangis melihat apa yang aku perbuat
Namun yang demikian tak pernah menjadi suatu pengingat
Aku mengambil banyak senjata dan merangkai pandai kata-kata
Untuk melumpuhkan dan menyembuhkan
Dan berusaha menjadi kuasa di atas banyak kepala
Akankah kita seberangi bersama?

Saat penaklukan menjadi tujuan, dan di sana adalah sarangnya hakikat kehidupan
Akankah kita bersama mengait lengan?
Saat aku kelaparan, saat aku berada kenyang di atas meja makan
Persepsiku tentang dosa, persepsiku tentang surga
Akankah kita seberangi bersama?

Untuk merangkak diantara belantara
Dan bertemu dengan macam lelaku, temanku adalah ketidakmungkinan, dan sudut pandang

Bila kita saling meneriaki Tuhan dalam peperangan
Akankah kita menjadi satu dalam kepastian?
Bila kita saling berebut pembelaan seakan malaikat adalah kartel bayaran
Akankah kita menjadi satu dalam kedamaian?

Bila kita menghafal lulabi dan mengharap utusan
Akankah kita terlelap dalam kuasa tanpa sekatan?

Dan hanya jika kita bangun beribu batu peribadatan
Namun kita tak pernah takut akan keyakinan
Kita hanya takut hilang keuntungan
Akankah kita masih bersujud bahkan jika tanpa imbalan?

Dan aku harus mengambil lebih banyak senjata, lebih banyak prajurit dan lebih banyak panglima
Aku harus menyusun pidato dan propaganda
Aku harus menyisihkan belas kasihan
Aku harus menjaga harkat kehormatan
Aku harus bersaing dalam pembunuhan, aku harus menjadi martir dalam keyakinan
Aku harus banyak memenangkan pertarungan

...
Demi perdamaian, demi merdeka
Demi lain duga yang beribu jumlahnya
Bila itu yang musti menjadi budaya
Akankah kita seberangi bersama?

AL, 15/1/2020

'Kini Burung Kenari Tak Punya Ranting'

Teduh hanyut aku kepada lampaunya alam... saat akar masih menjalar dan ranting masih memayung
Bercerita tentang siulan burung di atas tepian sungai
Berbalas sapa satu sama lain, kicau-kicau meracau...

Berbondong burung mengepak sayap
Beruntut siul panggil memanggil
Di pagi yang belum gemerlap matahari
Segerombol paruh terbang, sekawanan kenari
Terbang dari sarang mencari santap awal hari

Senyap tenggelam aku, kepada rimba-rimba dulu... saat hujan belum masam dan udara bersih merundung
Berkata-kata, menyair bersama batang-batang pinus dan nektar bunga
Yang bergoyang kerana angin, rerumputan hijau
Opera-opera suara dari orkestra kenari-kenari muda
Terbang bebas dibawah putih awan-awan
Di siang yang terik, bermain-main di taman kelopak bunga
Terbang semaunya... terbang sekawanan
Di tanah yang rindang rata, di tanah yang indah rupa

Kini burung kenari beranjak pulang...
Namun sungguh-sungguh sayang...
Mereka ternyata tak bisa pulang...
Kini kenari tak punya ranting...
Kini kenari tak punya sarang...

Terdiam aku, kepada waktu-waktu terdahulu...
Saat aku bisa bercerita, tentang kubah kehidupannya semesta
Yang aku lihat sendiri indah wajahnya...
Kini hanya bisa didongeng, karena rimba menjadi tandus, dan alam semakin kurus
Terdiam aku, kepada waktu-waktu yang lalu...
Saat kenari berkicau merdu, kini sunyi karena rumahnya ditebang tanpa ragu

Aku bertanya...
"Kemana kenari-kenariku!?"
"Kemana kenari-kenarimu!?"
Yang kemarin hari aku lihat bertengger, di pohon-pohon dan ranting kayu...
Aku kebingungan...
"Kemana ku cari kepak sayapmu...?"
"Kemana kamu, kenari-kenariku...?"

Aku mencarinya...
Namun semua sudah hilang, habis terbakar dan terbaring
Kemana kenari dan kawan-kawannya...?
Mereka tak berkicau, mereka hanya bisa terdiam memandangi sarangnya hilang beriring
Kemana kenari-kenari dan teman-temannya?
Saat rimba menjadi dinding, hutan beranjak kering... kini burung kenari tak punya ranting.

AL, 21/3/2020

close
Test Iklan