Rabu, 01 April 2020

'Baghdad'

Sekawanan gagak di ubun kepala...
Ucapan selamat datang di tanah nirwana
...dan selamat jalan untuk nyawa-nyawa

Kini bermula...
Pertumpahan martir...
Terompet sangkakala di atas kota
Serta bumbungan tinggi dan gelegar petir

Mereka melihat anak-anaknya menjadi debu...
Dan orang tuanya tergilas jerebu
Messiah tak kunjung datang
Sekalipun datang hanyalah seonggok penipu...

Mereka mengunci pintu-pintu
Dan menunggu...
Kala para pesuruh itu menghampiri para tertuduh...
Kemudian datang hujan...
Hujan-hujan mesiu

Sekawanan gagak kembali...
Setelah lama bernaung di tanah yang berkilau...
Kilauan dari minyak bumi...

Sekawanan gagak di ubun kepala
Mengucapkan terimakasih...
Pada setiap peti mati
Dan para pesuruh...
Yang kehilangan mata, tangan, kaki
...sebab diamputasi
Atas perintah tunjuk jari.

AL, 13/4/2019

'Puppet'

Taruh dalam peti kemudian seribu hardik menghampiri
Siksa sudah ditulis..
Nadi telah teriris..
Seribu khayal lalu cipta ketakutan semakin beradu
Jika engkau takut maka sebutlah satu nama
Ia akar ketakutan..
Yang menyiksamu lebih dari apapun
Mematahkan setiap tulang
Membakar sekujur kulit
Apa yang siksa selamanya tak kunjung hilang..
Adalah mereka yang tak mampu berkelit

Maka Ia adalah alasan untuk mengadu
Mereka berujar mengenai siksa dan runtutan maha luka
Dan mereka berkata Ia maha cinta

Maka aku menyerah terhadap apa saja pedih nyata..
Terhadap delusi..
Maka siapa yang tak akan kembali..
Adalah aku yang pertama menepati

Biar hidup berkalang hampa
Dan peluru diatas mereka yang berserah nyawa
Kepada cerita-cerita
Dan kesaksian para penerka.

AL, 11/10/2018

'...ku Bilang Tunggu'

Biar aku tenggelam supaya kadung dalam...
Ku bilang tunggu...
Belum saatnya mengatakan tentangmu
Mungkin saatnya nanti..
Setidaknya aku sudah berjanji
Jangan berpikir bila ku datang, sekedar untuk mengingkari...
Ku bilang tunggu...
Dan bila tiba waktu...
Di sampingmu
Yang nampak di mataku
Hanya satu...
Maka ku bilang tunggu..
Aku bukan hidup dusta ironi...
Aku menunggu kala yang pasti
Dan bila datang saatnya...
Sumpahku tak lekas berlalu..
Ku bilang tunggu...
Sebab yang kini hadir percaya...
Ku lihat hanya satu.

AL, 14/4/2019

'Jika Mati Hanya Satu Jengkal Jari'

Aku ditelan mentah-mentah...
Oleh sakit dan resah...
Sementara redup mengitariku, melingkar tanpa henti, tanpa berlalu...
Nafas terengah...
Senyum lemah, detik ialah gelisah...
Di ujung kenang serakah...

Memorandum menyapaku...
Kini tinggal semu, orang-orang sendu...
Sebabku...
Yang diperaduk takdir dadu...

Aku diiring ayat dilafalkan satu-satu
Ku menunggu....
Kala tiba saatnya...
Satu lagi usai urusan...
Nir kehidupan...
Tak ada kata atau kalimat permohonan...
Yang hadir hanyalah detik penebusan...

Kini yang dinanti...
Tiba lebih dahulu di sini...
Kurasa ribaan di dalam derasnya nadi...
Dan tanpa denyut arteri...
Kini netra dan rungu di ujung henti
Jika mati hanya satu jengkal jari...

Kini semakin lepas...
Terjerat, terhempas...
Terdampar, terpukul keras...
Yang dilewati, eksekusi tanpa welas...
Kini sadar ku pahami...
Jika mati hanya satu jengkal jari...

AL, 13/4/2019

close
Test Iklan