Rabu, 25 Maret 2020

'Jubileum'

...di ujung batang perkara..
Perkara terpatri dari benih-benih terka
...dari tabloid berita..
...dari gosip televisi dan telewicara
Zirah dan panji...
Fat Man... Little Boy...
Dijatuhkan dari peraduan tinggi...
Dihunus di leher tetawan perang
Perang biorama...
Abdi fosil berharga...
Tersutradara...

Washington di mana-mana...
Satu dua kata, perihalnya...
Nafsu utama, terencana..
Rumah pengungsi, malam ini hangus tak berupa...

Dinding sekat tampak mata...
Tampak diada-ada..
Klandestin rupa-rupa...
Washington di mana-mana
Dari Saigon hingga Lima...

Kuda pelana ditanam... meski di ujung dunia..
Liberty tertawa, tawa adidaya...
Sebar rahim Manchuria
Doktrin Truman dan tanah My Lai... dua kisah kadung kontra
Washington ada di mana-mana
Segitiga satu mata...

Juta peristiwa yang tumbuh senjakala...
Dosa-dosa di tanah do'a...
Ada ratusan lisan satu tujuan...
Maka veto barang berharga...

Istilah tak mampu gambarkan segala
Seringai Rushmore...
Rentetan rumor, plutonium dan tumor
Adhesi sebab obligasi, incar tanah teledor
Eleksi-eleksi mengekor, demokrasi kotor..
Lidah kudeta, aksi teror dan genosida horor

Akar segala problema... riuh suara-suara
Madison Square Garden, di sana kemudian terlupa...
Edaran perang beserta edaran traktat
Runtuhan rumah sakit dan anak cacat...
Irak dan Saddam...
Korea, Vietnam..
Abraham menanggung kelam.

AL, 30/3/2019

'Di mana Agamaku?'

Aku lihat Agamaku waktu itu..
Di mana-mana, di setiap kata..
Agamaku ada di kata-kata bijak
Yang disadur lalu cepat beranjak
Agamaku ada di lirik lagu
Yang indah nan merdu
Agamaku ada di ladang debat..
Di pamflet-pamflet
Di spanduk orasi
Ditunggangi..
Agamaku ada di tangan penipu
Meski banyak yang tak mau tahu

Agamaku ada di kertas-kertas koran
Kertas yang dibaca lalu ditinggalkan
Agamaku ada di kampanye pemilihan
Terlihat ramah namun selalu dipertanyakan
Agamaku di mimbar kekuasaan
Agamaku lalu dipermainkan..
Di atas kepala calon bandit perkotaan
Di telapak penebar mudharat kebencian
Dengan mudah dikibuli preman
Didustakan..

Agamaku ada di pelormu...
Agamaku ada di cucuk kerbau
Agamaku ada di caci makimu
Agamaku yang seakan mesiu

Lalu kemana lari filosofi agamaku?
Dimana suara senandung surau itu?
Dimana lantunan lafadz yang merdu?
Dimana mereka yang mengaku guru?

Bimbing aku..
Dan mereka yang sama denganku
Dari dunia yang semakin rancu
Kemunafikan bak benalu

Agar Agamaku tetap bisa kujaga
Dari pagar-pagar berduri huru-hara
Agar Agamaku tetap pada tempatnya
Tanpa dipedihkan gas air mata
Agar Agamaku tak jadi janji-janji penguasa
Diperkosa hirarki, dijadikan senjata
Agar Agamaku tetap murni
Agar ideologi bukan kiasan semata.

AL, 16/11/2017

'Restorasi Para Sukma'

Tentang dosa-dosa, dan upaya durja... pendusta yang berjanji... kemudian kini bangkit sempurna
Cukup klise adanya...

Terkubur dalam lumpur berbatu, lumpur penuh kotoran, suatu asma sekawanan sahib tunggal mata... bangkit dari kematian
Kebingungan, dan delusi menyeberangi praduga
Siapa tak mengenal siapa
...
Restorasi para sukma
Dalam padang pembuangan
Dalam ladang kerangka
Tanpa batu nisan

Suatu masa yang dijanjikan, hingga yang tertiup tertiup terakhir, bangkit tanpa kawan
Segala dipertanyakan...
Yang kerap menanti kini wujud pembuktian
Dan telunjuk akan menunjuk, mengancam dan tak ada suatu akal cukup mampu membuktikan
Restorasi para sukma
Bertelanjang segala
Di muka timbangan...
Pertanggungjawaban.

AL, 12/7/2019

'Srebrenica-Potočari'

Siulan hari semenjak tragedi, dentum laras membisik kenang
Saat ribuan kelakar diujar deras lidah komandan
Berpaling kisah delapan ribu kematian..
Tiap waktu nyaris terlupakan
Terlupakan...
Dosa diujung senapan

Sebuah cerita tentang manusia yang mulai ditawar
Cerita kepala yang mulai dicari tajamnya paruh nazar
Ahh, aku tak tega ungkit cerita..
Dedahan keringpun mungkin akan patah..
Tangisan air mata mungkin akan banjiri lembah
Kerana dengar perihal cerita maut semesta..

Kisah ini, tapal batas.. perihal ras
Yang tak kunjung tuntas..
Sebab cenanga membabi buta, dalih apa yang mampu membela?
Mereka yang sengaja melanglang..
Pula dalih pirang yang lama hilang..
Alibinya mengaku diserang..
Bersama ribu-ribu pengungsi malang..

Yang sembunyi, beruntung, berlari luntang lantung
Yang dicekik mati, diseret, dimaki, ditembaki, digantung..

Desir angin kala itu, berbau..
Sebab tersiram mesiu peluru
Yang ditanam di kepala, punggung, rahim Ibu
Gelimpangan, jelma nyawa tiada dosa
Terkapar: ribuan manusia, bayi, manula, cacat selamanya dan resah cipta luka

Ingatlah, ada yang mati di temaram senja..
Anak manusia..
Dibunuh pula anak manusia..
Tinggal kerangka, di sabana Srebrenica
Di rumputnya: darah, dan guguran tanah kubur, dari roh yang bertanya, "Sebab apa?"

Iblis itu, berwujud manusia, masihlah ada..
Nyawa tua, muda, wanita, balita, ditawar harga..
Meski tak lama: melayang jiwa-jiwa
Rentetan peluru dijadikan pelaku..
Serigala gunung tak sudi turun
Lalu sengaja termenung, hindari kurung

Jeritan insan tanpa nisan..
Yang hingar bingarnya tak dihiraukan..
Srebrenica..
Lumbung kematian..

Nyawa tak berdosa kini di bawah tanah
Terkubur bersama sumpah..
Sumpah bendera setengah tiang
Bendera mereka yang diserang

Mereka berteriak pada bintang..
Mereka berupaya pada nyanyian masa lalu para binatang
Maka dengar dan abadikan; perang tak melahirkan siapa yang menang..
Ia rahim bagi jutaan luka untuk dikenang

Srebrenica.. kala sembilan lima..
Tak terlupa..
Kerak darahnya..
Di tangan para terduga.

AL, 10/1/2017

close
Test Iklan